Abstrak
Kopi banyak digemari karena memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Tetapi kopi mengandung kafein yang dapat mengganggu kesehatan. Salah satu jenis kopi yang sangat terkenal adalah kopi luwak. Kopi ini memiliki keunikan karena kadar kafein yang rendah dan dalam prosesnya kopi harus dikonsumsi oleh luwak. Permasalahan yang sekarang adalah populasi luwak yang mulai menurun serta prosesnya yang membuat sulit diproduksi dalam skala besar dalam waktu singkat. Pada penelitian ini kami mencoba mengaplikasikan kultur bakteri Enterococcus durans, Enterococcus sulfureus dan Lactococcus garviea untuk mengolah kopi robusta agar menyerupai kopi luwak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kafein dari kopi robusta terfermentasi dan hasilnya akan dibandingkan dengan kopi luwak. Bakteri yang terdapat di dalam sistem pencernaan luwak diisolasi dan ditambahkan pada saat proses fermentasi biji kopi. Setelah proses fermentasi selesai dilakukan pengukuran kadar kafein dengan menggunakan KCKT. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar kafein pada kopi robusta terfermentasi yang menggunakan suspensi bakteri Enterococcus durans, Enterococcus sulfureus dan Lactococcus garvieae belum dapat menyamai kadar kafein pada kopi luwak, namun kadar kafein pada kopi robusta terfermentasi dapat lebih rendah dari kadar kafein pada kopi robusta. Persentase kadar kafein kopi robusta terfermentasi, kopi robusta, dan kopi luwak berturut-turut 1,20%, 1,90%, dan 0,59%.