Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Koleksi otomatis dari Skripsi/Tugas Akhir

815 item publik

Publikasi

Halaman 41 dari 41

POTENSI ANTIOKSIDAN BAKTERI ENDOFIT TANAMAN SIRIH MERAH (Piper cf. fragile. Benth)

Eem Masaenah; Rumella Simarmata; SELVIA NASWITA
2021 · Thesis · Open Access

Bakteri endofit yang hidup di jaringan tanaman mampu menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang sama dengan tanaman inangnya. Bakteri endofit yang diperoleh dari tanamansirih merah (Piper cf. fragile. Benth) mempunyai potensi menghasilkan senyawa antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi bakteri endofit yang mempunyai aktivitas antioksidan yang berasal dari daun, batang, dan akar tanaman sirih merah (Piper cf. fragile. Benth) dan mengetahui kandungan senyawa aktifnya yang berperan sebagai antioksidan. Masing-masing isolat difermentasikan dalam media NB (NutrientBroth). Hasil fermentasi dipisahkan antara supernatan dan biomassa. Supernatan diekstraksi dengan etilasetat. Ekstrak kental yang diperoleh diuji aktivitas antioksidan secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan pereaksi ABTS. Hasil uji menunjukan dari 15 isolat bakteri endofit hanya 4 isolat yang menunjukan aktivitas antioksidan secara kualitatif. Isolat dengan kode SMB1 dan SMD 3.1 mempunyai nilai IC50 berturut –turut 23,11 ppm dan 94,88 ppmdan trolox sebagai kontrol positif mempunyai nilai IC50 sebesar 4,041 ppm. Dari hasil uji kuantitatif dipilih isolat dengan kode SMB 1 untuk dianalisis dengan GC-MS. Hasil GC-MS menunjukan isolat dengan kode SMB 1yang diduga mengandung senyawa1,2-Benzenediccarboxylic acid, bis(2-ethylhexyl)ester dengan persentase kemiripan 93%.

AKTIVITASlANTIOKSIDANlSEDUHANlDAUN SALAM (Syzygiumlpolyanthuml(Wight) Walp.) DAN DAUN STEVIA (StevialrebaudianalBertoni) SERTA KOMBINASINYA

ANNISA NURMALASARI; Freddy Arifta Nassel; Lilik Sulastri
2021 · Thesis · Open Access

Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menangkal atau meredam efek negatif oksidan dalam tubuh. Daun salam (Syzygium polyanthum) memiliki kandungan alkaloid, saponin, quinon, fenolik, triterpenoid, steroid dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) merupakan daun yang sering digunakan sebagai pemanis alami untuk bahan makanan dan minuman. Keunggulan dari stevia yaitu bersifat non karsinogenik, memiliki nilai kalori rendah yang cocok bagi penderita diabetes, antimikroba, antidiabetik serta memiliki senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai antioksidan. Senyawa fitokimia yang terdapat dalam daun stevia adalah alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, glikosida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder serta menentukan aktivitas antioksidan dari kombinasi seduhan daun salam dan daun stevia dengan metode perendaman radikal bebas. Seduhan daun salam dibuat dengan deret konsentrasi 5, 10, 20, 40, 80 ppm dan daun stevia dengan deret konsentrasi 5, 10, 20, 40, 80 ppm serta kombinasinya dengan perbandingan 1:1, 1:3 dan 3:1 pada deret konsentrasi 5, 10, 20, 40 dan 80 ppm. Diseduh air panas lalu di tambahkan dengan akuades dan DPPH, kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 515,5 nm. Seduhan daun salam mengandung alkaloid, flavonoid, saponin tanin dan steroid dan pada daun stevia mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Seduhan daun salam memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 13,8 ppm (sangat kuat), daun stevia dengan nilai IC50 45,7 ppm (sangat kuat) serta pada kombinasi dengan perbandingan 1:1 diperoleh nilai IC50 sebesar 9,2 ppm, 1:3 nilai IC50 sebesar 9,44 ppm dan pada 3:1 sebesar 37,15 ppm.

EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA RAWAT JALAN DEWASA DIKLINIK CARITAS BOGOR PERIODE JULI–DESEMBER 2019

Fernanda Putri Setianingsih; Ferry Effendi; Krysantus Surya Nugroho
2021 · Thesis · Open Access

InfeksiSaluranPernafasanAkutmerupakanpenyakitinfeksiakutyang menyerangsalahsatubagianataulebihdarisalurannafasmulaidari hidung(saluranatas)hinggaalveoli(saluranbawah)termasukjaringan adneksanyasepertisinus,ronggatelingatengahdanpleura.Penggunaan obatsecaratepatmerupakanhalpentingyangperludilakukandalam meningkatkanmutupelayanankesehatankepadapasien.Berdasarkan KemenkesRI(2011)tentangPOR,penggunaanobatdapatdikatakan rasionalapabila pasien menerima obatyang sesuaidengan kondisi klinisnya,dalam periode waktu yang tepat,dan dengan biaya yang terjangkau untuk pasien dan kebanyakan masyarakat.Penelitian ini dilakukanuntukmengetahuigambarandatasosiodemografipasiendan rasionalitasantibiotikpadapasienISPA rawatjalandewasadiKlinik CaritasBogor.Penelitianinidilakukandenganmetodedeskriptifdengan mengambildatarekam medispasienISPAsecararetrospekifpadabulan JulisampaiDesember2019.Berdasarkandari82sampelyangteliti,hasil penelitianmenunjukkanbahwasosiodemografiberdasarkanusiayang palingbanyakmenderitaISPAyaitupadakategoridewasaakhirsebanyak 25pasien(30,49%),berdasarkanjeniskelaminyaitulaki-lakisebanyak51 paien(62,20%).Berdasarkanprofilpenggunaanantibiotikyangpaling banyakdigunakan yaitu Cefixime sebanyak48 pasien (58,54%).Dan berdasarkanrasionalitaspenggunaanobat,tepatindikasisebanyak77 pasien(93,90%),tepatdosissebanyak78pasien(95,12%),tepatlama pemberian sebanyak 79 pasien (96,34%)dan tepatintervalwaktu sebanyak78pasien(95,12%).

FORMULASI BODY LOTION TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) SERTA PENENTUAN NILAI SPF

Herson C. Himawan; NURAINI RAHMADIANTI; Triyani Sumiati
2021 · Thesis · Open Access

Paparan sinar matahari secara terus-menerus dapat memberikan efek yang tidak diinginkan pada kulit sehingga diperlukan senyawa atau zat yang dapat memantulkan ataupun menyerap sinar UV yaitu tabir surya. Daun jambu biji memiliki potensi sebagai tabir surya karena mengandung senyawa flavonoid yang mampu menyerap sinar UV. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan body lotion ekstrak etanol daun jambu biji yang memiliki aktivitas sebagai tabir surya. Formulasi sediaan body lotion dibuat 3 formula dengan konsentrasi ekstrak daun jambu biji yang berbeda yaitu FI (5%), FII (10%) dan FIII (15%). Ketiga formula menghasilkan sediaan homogen, memiliki pH antara 6.5-7.1. Viskositas antara 5000-6000 cps. Memiliki tipe emulsi minyak dalam air dan memiliki daya sebar antara 6,21-6,51 cm. Nilai SPF pada FI (5%) yaitu 21,627, pada FII (10%) yaitu 31,402 dan pada FIII (15%) yaitu 32,334 ketiga sediaan tersebut termasuk dalam kategori perlindungan ultra. Evaluasi karakteristik fisik yang dilakukan pada FI (5%), FII (10%) dan FIII (15%) meliputi organoleptik, homogenitas, viskositas, daya sebar, pH dan SPF masih termasuk pada rentang sediaan topikal namun setelah dilakukan cycling test viskositas, daya sebar dan nilai SPF dari sediaan cenderung tidak stabil selama peyimpanan.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK FRAKSI DAUN KARET KERBAU (FICUS ELASTICA Roxb. Ex Hornem) MENGGUNAKAN METODE PENGHAMBATAN RADIKAL BEBAS DPPH

DEVI SAFITRI; Sofyan Ramani; Triyani Sumiati
2021 · Thesis · Open Access

Daun karet kerbau merupakan bagian tanaman yang efektif sebagai obat herbal. Aktivitas biologis dari daun karet kerbau diprediksi berpotensi sebagai senyawa antioksidan. Senyawa antioksidan dapat digunakan untuk pencegah serta obat penyakit degeneratif. Riset ini menentukan kemampuan serta aktivitas antioksidan pada daun karet kerbau dengan menggunakan DPPH. Ekstrak etanol 96% fraksinasi menggunakan ekstrasi cair- cair serta diperoleh 3 fraksi, ialah fraksi etil asetat dengan nilai IC50 93, 74 ppm, fraksi heksan dengan nilai IC50 141, 39 ppm serta air dengan nilai IC50 95, 57 ppm. Berdasarkan riset seluruh fraksi mempunyai potensi sebagai antioksidan. Aktivitas antioksidan teraktif ada pada fraksi etil asetat dengan presentase konsentrasi penghambatan sebesar 93,74 ppm. Fraksi tersebut tergolong sebagai antioksidan yang teraktif.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI ORAL PADA PASIEN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT INAP RS. HARAPAN DEPOK DENGAN METODE ATC/DDD

Ferry Effendi; Ira Nilawati; UTAMI WIJAYANTI
2021 · Thesis · Open Access

Hipertensi merupakan salah satu factor resiko utama penyebab kematian nomor satu di dunia dan nomor tiga di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas penggunaan obat antihipertensi oral dengan metode Anatomical Theurapetic Chemical (ATC)/ Defined Daily Dose (DDD) serta untuk mengetahui obat-obat antihipertensi oral apa saja yang masuk dalam segmen Drug Unilization (DU) 90%. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data rekam medis pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Data penggunaan antihipertensi oral dan data kunjungan rawat inap diperoleh dari Instalasi Rekam Medik. Semua data tersebt diolah untuk mengetahui kuantitas pengunaan antihipertensi oral dalam satuan DDD/100 patient-days dan profil DU90%. Hasil penelitian menunjukan bahwa obat antihipertensi oral yang digunakan pada pasien hipertensi yang dirawat inap di RS Harapan Depok selama tahun 2019 adalah amlodipin 46,8 %, captopril 22,10 %, furosemid 10,9%, ramipril 7,6%, bisoprolol 5,2%, candesartan 2,7%, spironolacton 2,2%, nifedipin 1,6%, valsartan 0,9%. Dari tabel DU90% obat yang masuk dalam segmen DU90% adalah amlodipin, captopril, furosemid dan ramipril.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS KOMBINASI OBAT CARVEDILOL - RAMIPRIL DAN BISOPROLOL - CANDESARTAN PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RUANG RAWAT INAP RSUD CIAWI

ARIEF MUHAMAD AL RACHMAN; Ferry Effendi; Novita Ika Mayasari Atmaputri
2021 · Thesis · Open Access

Salah satu faktor penyebab gagal jantung yaitu hipertensi yang tidak terkontrol. Pemberian kombinasi obat Carvedilol – Ramipril dan Bisoprolol – Candesartan dilaporkan efektif menurunkan tekanan darah sampai batas normal. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas 2 kombinasi obat tersebut. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pengumpulan data secara retrospektif melalui rekam medik. Data dianalisis dengan SPSS versi 25. Pasien dengan kelompok umur 46-55 tahun paling mendominasi sebanyak 88 pasien dari total 116 pasien (75,86 %), kategori jenis kelamin lebih banyak terjadi pada laki-laki sebanyak 66 pasien dari total 116 pasien (56,89%). Sedangkan pada kategori kelas gagal jantung, kelas NYHA II paling mendominasi dengan jumlah 63 pasien dari total 116 pasien (54,31%). Perbandingan efektivitas kategori sistolik maupun diastolik tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan nilai P value sebesar 0,237 > 0,05 (sistolik), dan 0,075 > 0,05 (diastolik). Dari hasil uji distribusi frekuensi, pencapaian target tekanan darah kombinasi Bisoprolol – Candesartan (89,7%) lebih baik dibandingkan dengan kombinasi Carvedilol – Ramipril (81%).

POTENSI ANTIOKSIDAN BAKTERI ENDOFIT DARI TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)

ROHMAH; Sitaresmi Yuningtyas; Tiwit Widowati
2021 · Thesis · Open Access

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai penghasil senyawa antioksidan. Bakteri endofit yang diisolasi dari tanaman kakao diduga dapat menghasilkan metabolit sekunder yang sama dengan tanaman inangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya senyawa antioksidan dari bakteri endofit tanaman kakao dengan menggunakan metode ABTS. Pada penelitian ini, uji aktivitas antioksidan dilakukan secara kualitatif menggunakan metode DPPH dan secara kuantitatif dengan metode ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 bakteri endofit yang diuji, diperoleh 2 isolat yang menunjukkan adanya aktivitas antioksidan secara kuantitatif. Isolat bakteri endofit tersebut adalah CGK DT 1 dengan nilai IC50 sebesar 51,36 ppm, CGK DM 6 dengan nilai IC50 sebesar 295.42 ppm dan trolox sebagai kontrol positif sebesar 4,04 ppm. Ekstrak etil asetat isolat CGK DT 1 selanjutnya dipilih untuk pengujian analisis GC-MS. Berdasarkan hasil analisis GC-MS, senyawa yang terkandung dalam ekstrak etil asetat fraksi II isolat CGK DT 1 diduga adalah senyawa 1-Heptacosanol dengan persentasi kemiripan 95% dan luas area yang 8,99%. Senyawa ini diduga mempunyai aktivitas antioksidan.

FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN GEL SANITIZER EKSTRAK ETANOL RIMPANG JAHE EMPRIT (Zingiber Officinale Rosc.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

NUR HAPSARI FITRIYAH; Sofyan Ramani; Triyani Sumiati
2021 · Thesis · Open Access

Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri yang sering mengakibatkan penyakit akibat pola makan dan pola hidup yang tidak bersih. Staphylococcus aureus mengakibatkan penyakit bisul, abses kulit dan infeksi kulit, sedangkan Escherichia coli dapat mengakibatkan demam, mual dan muntah, serta diare dengan tingkat keparahan ringan hingga parah, dan bahkan berdarah. Untuk mencegah terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperlukan sediaan gel yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Rimpang Jahe Emprit (Zingiber Officinale Rosc) memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak rimpang jahe untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Rimpang jahe emprit di ekstrak menggunakan etanol 96%. Ekstrak kental rimpang jahe emprit dari hasil ekstraksi didapatkan 56,19 gram lalu dilakukan uji fitokimia, dan hasil uji fitokimia pada ekstrak rimpang jahe menunjukkan hasil positif untuk alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpen/steroid. Ekstrak kental rimpang jahe emprit dibuat 4 sediaan gel yaitu : basis, konsentrasi 5%, konsentrasi 10% dan konsentrasi 15%. Sediaan yang dibuat dilakukan uji stabilitas dengan uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji homogenitas, uji daya sebar dan uji antibakteri. Uji stabilitas yang dilakukan pada sediaan menggunakan metode cycling test, metode ini dilakukan dengan cara menyimpan sediaan gel pada suhu 4 oC selama 24 jam lalu dipindahkan ke dalam oven dengan suhu 40oC selama 24 jam. Perlakuan ini disebut dengan 1 siklus , dan dilakukan sebanyak 6 siklus.

FORMULASI SEDIAAN GEL FACIAL WASH EKSTRAK ETANOL 96% KULIT BUAH PISANG AMBON (Musa acuminata Colla (Group AAA)) DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acne

ALIFIA CAHYA AMALIA PUTRI; Inawati; Triyani Sumiati
2021 · Thesis · Open Access

Jerawat (Acne vulgaris) merupakan permasalahan fisik yang banyak dialami pada masa remaja. Salah satu penyebab jerawat karena adanya aktivitas bakteri Propionibacterium acne (P.acnes). Pengobatan jerawat menggunakan antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan iritasi dan resistensi pada kulit wajah. sehingga dibutuhkan alternatif lain berasal dari bahan alam. Kulit buah pisang Ambon Musa acuminata Colla (Group AAA)) tumbuhan berkhasiat sebagai antibakteri pada penelitian ini digunakan bagian kulit buah pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sediaan gel facial wash yang mengandung ekstrak kulit buah pisang Ambon dengan variasi konsentrasi ekstrak 3%, 6%, dan 9%. Selanjutnya dibuat formulasi dengan zona hambat terbaik. Dilakukan evaluasi mutu fisik sediaan gel facial wash meliputi uji organoleptik, uji homogentias, uji pH, uji daya busa, uji daya sebar, uji viskositas dan uji stabilitas sediaan .Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi 9% ekstrak etanol 96% kulit buah pisang ambon memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acne yang paling besar. Nilai zona hambat ekstrak etanol 96% kulit buah pisang ambon 3%, 6%, dan 9% berturut – turut 6,13 mm ; 11,42 mm; dan 14,22 mm. Sediaan gel facial wash konsentrasi 9% ekstrak etanol 96% kulit buah pisang ambon memiliki zona hambat sebesar 15,24 mm. Hasil menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak maka semakin besar nilai daerah zona hambat yang terbentuk.

GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT POLIFARMASI PADA PASIEN GERIATRI DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI DRUGS.COM DI KLINIK INSANI PERIODE JUNI – DESEMBER 2019

Irmin; ROSNAH HAYATI; Silvi Nurafni
2021 · Thesis · Open Access

Pemberian terapi obat lebih dari satu zat sering kali menimbulkan masalah salah satunya pada pasien geriatri dalam upaya pengobatan suatu penyakit, dimana obat – obatan yang digunakan tersebut dapat menyebabkan terjadinya interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran potensi interaksi obat polifarmasi yang terjadi pada pasien geriatri di Klinik Insani periode Juni- Desember 2019. Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling dimana sampel memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 83 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 pasien terdapat 29 (34,93%) pasien laki laki dan 54 (65,06%) pasien perempuan. Usia paling banyak pada usia 55 – 65 tahun 48 pasien (57,14%) dan >65 tahun 36 pasien (42,85%). Polifarmasi yang sering diberikan pada pasien geriatri adalah 5 jenis obat 68 pasien (81,92%), 6 jenis obat 12 pasien (14,45%), dan 7 jenis obat 3 pasien (3,61%). Obat yang paling banyak diresepkan adalah amlodipin sebanyak 38 (17,67%). Penyakit terbanyak adalah dispepsia sebanyak 28 pasien (40%). Potensi terjadi interaksi obat sebanyak 79 pasien (95,18%) dan sebanyak 4 pasien (4,81%) tidak berpotensi terjadi interaksi obat. Mekanisme interaksi tertinggi adalah farmakodinamik yaitu 133 (72,28%) dan farmakokinetik 51 (27,71%). Level keparahan interaksi obat paling banyak terjadi adalah moderate 127 (69,02%%), minor 54 (29,34%), dan mayor 3 (1,63%).

SEDIAAN GEL PEWARNA RAMBUT DARI EKSTRAK DAUN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.)

Anna P Roswiem; DEYANI AULIYA AYU; Eem Masaenah
2021 · Thesis · Open Access

Penggunaan produk kosmetika maupun perawatan tubuh yang mengandung bahan alami akhir-akhir ini lebih dipilih oleh masyarakat, salah satu jenis kosmetika yang digemari adalah pewarna rambut. Daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) dapat digunakan sebagai pewarna alami karena mengandung antosianin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula terbaik dari pewarna rambut dalam bentuk sediaan gel yang mengandung ekstrak etanol 70% daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) berdasarkan mutu fisik dan kesukaan. Ekstrak kental diperoleh dengan cara diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70% dan penambahan asam sitrat 3% kemudian maserat di rotary evaporator kemudian di waterbath hingga didapatkan ekstrak kental. Formula sediaan gel pewarna rambut dibuat dengan 3 konsentrasi ekstrak daun bayam merah yang berbeda, yaitu konsentrasi 10% (F1), 15% (F2) dan 20% (F3). Hasil sediaan berbentuk gel dan berwarna coklat. Hasil seluruh sediaan gel (basis gel, F1, F2 dan F3) diuji stabilitas menggunakan metode cycling test. Pada uji pH, kisaran 2,5 hingga 3,56. Uji viskositas kisaran 5.500 sampai 49.000 cps. Uji daya sebar kisaran 5,35 sampai 5,89 cm. Rambut hasil bleaching yang telah direndam di dalam sediaan gel selama 4 jam pada basis gel, F1, F2 dan F3 secara berturut-turut menghasilkan warna black brown, nut brown, pearl copper, dan olive brown. Hasil stabilitas terhadap pencucian dapat bertahan 4 kali pencucian pada F1. Hasil stabilias terhadap sinar matahari tidak mengalami perubahan terhadap rambut yang diberi perlakuan. Uji kesukaan menunjukan pada sampel rambut yang telah diberi pewarna, panelis lebih menyukai F1 untuk parameter warna dan tekstur, sedangkan aroma lebih menyukai F2. Uji kesukaan pada sediaan gel, panelis menyukai F1.

TOKSISITAS EKSTRAK DAUN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L) DENGAN METODE Brine Shrimp Lethality Test

Kenli Kendi Tampoliu; M ALWAH ALPIANDI; Triyani Sumiati
2021 · Thesis · Open Access

Daun ubi jalar ungu merupakan tumbuhan suku convolvulaceae yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas ekstrak daun ubi jalar ungu dengan pelarut etanol 70%, etil asetat dan n- heksan. Uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari ekstrak daun ubi jalar ungu dengan pelarut etanol 70%,etil asetat dan n-heksan secara berturut-turut sebesar 233.46, 150.04 dan 171.82 ppm. Hasil penelitian ini menunjukan ekstrak daun ubi jalar ungu tersebut termasuk kedalam kategori toksik sedang. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan ekstrak daun ubi jalar ungu memberikan efek toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN GEL ANTI ACNE EKSTRAK ETANOL 70% DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala (Lam) de Wit) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes

Herson Cahaya Himawan; M. Ikhwan Setiawan; SINTIA FITRIANI KHOERUNNISA
2021 · Thesis · Open Access

Jerawat merupakan suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri diantaranya adalah Propionibacterium acnes. Penelitian Alamsyah 2019 menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% daun lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam) de Wit) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes pada konsentrasi 15% dengan diameter zona hambat sebesar 11,39 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan mutu fisik sediaan gel ekstrak etanol 70% daun lamtoro terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Pada penelitian ini ekstrak daun lamtoro diformulasikan kedalam bentuk sediaan gel dengan berbagai konsentrasi ekstrak yaitu 10%, 20%, dan 30% kemudian diuji mutu fisik meliputi: uji organoleptik, daya sebar, pH, viskositas, stabilitas Cycling test dan uji antibakteri terhadap Propionibacterium acnes menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan ekstrak daun lamtoro mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid. Aktivitas antibakteri ekstrak daun lamtoro terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan konsentrasi 10%, 20%, 30% adalah 10,6 mm, 15,9 mm, dan 18,3 mm. Sediaan gel ekstrak daun lamtoro memiliki mutu fisik yang baik, dan aktivitas antibakteri sediaan gel daun lamtoro dengan konsentrasi 10%, 20%, 30% secara berturut-turut 6,4 mm, 8,2 mm, 10,1 mm dengan kategori sedang yang menunjukan sediaan gel ini dapat berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes.